REKOMENDASI PENCEGAHAN DIFTERI



1.  Saat ini masih berlangsung KLB difteri di wilayah yang akan menjadi lokasi penyelenggaraan dan penyanggah ASIAN GAMES (8 provinsi). Terjadi penambahan kasus baru dalam satu bulan terakhir pada 5 dari 8 provinsi.

2.    Risiko bila tidak dilakukan penanggulangan komprehensif saat ini, dikhawatirkan saat penyelenggaraan ASIAN GAMES akan terjadi penularan pada massa yang akan berkumpul.

3.    Usia terendah kasus difteri adalah kurang dari satu tahun dan usia tertinggi adalah 59 tahun. Range usia terbanyak adalah usia 1 (satu) hingga 18 tahun. Dalam tiga tahun terakhir proporsi kelompok umur kasus terbesar adalah usia lebih dari 5 tahun.

4.    Akumulasi kelompok rentan (susceptible) berdasarkan imunisasi dasar dari 2008-2016, tidak berbanding lurus dengan terjadinya KLB difteri di suatu daerah. Ini menunjukan imunisasi dasar saja tidak cukup untuk memberikan perlindungan sehingga meningkatkan immunity gap / kesenjangan imunitas pada populasi. Capaian cakupan imunisasi batita masih rendah secara nasional, pada 8 provinsi mencapai 60,4%.

5. Terdapat pengalaman daerah dalam penanggulangan KLB difteri dengan melaksanakan ORI/imunisasi massal dengan sasaran usia yang cukup luas yaitu < 15 tahun dan hasil cakupan tinggi, dengan menunjukan kencendrungan penurunan kasus.




    Rekomendasi :

Mempertimbangkan kajian epidemiologi, ketersediaan sumber daya serta pengalaman empiris dalam penanggulangan KLB difteri, maka perlu dilakukan Langkah – langkah sebagai berikut :

1.    Membuat surat edaran dari Kemendagri ke seluruh Gubernur/Bupati/Walikota tentang penguatan Imunisasi rutin dan peningkatan surveilans difteri, serta melakukan penanggulangan KLB difteri di daerah terjangkit secara optimal.

2.    Melakukan upaya untuk menutup kesenjangan imunitas (immunity gap), dengan melakukan 3 putaran ORI dengan cakupan tinggi (>90%), pada saat 0-1-6 bulan tanpa memandang status imunisasi, di kabupaten terjangkit dan berisiko tinggi difteri di 8 provinsi. Sasaran kelompok umur 1 - 18 tahun (sampai kelas tiga SLTA).

3.    Bagi Tim ASIAN GAMES dari negara yang akan datang ke Indonesia, dianjurkan mendapatkan imunisasi difteri lengkap atau minimal 1 doses 4 minggu sebelum kedatangannya.

4.    Bagi Tim ASIAN GAMES dari Indonesia, diharuskan mendapatkan imunisasi difteri lengkap minimal 4 minggu sebelum mengikuti kegiatan ASIAN GAMES.

5.    Terkait item no 3 dan 4, perlu koordinasi dengan Kementerian Olah raga/Kementerian Luar negeri untuk mempersiapkan surat pemberitahuan ke negara-negara peserta.
6.    Melibatkan KKP dalam skrining pengecekan status Imunisasi difteri bagi setiap Tim ASIAN GAMES yang masuk wilayah Indonesia.



7.    Melakukan analisa sero epidemiologi dari specimen (tahun 2012) yang ada di Badan Litbangkes untuk mengetahui kelompok umur rentan. Hasil sero epidemiologi dapat menjadi acuan untuk menetukan sasaran pelaksanaan SIA dalam rangka penanggulangan KLB Difteri.

8.    Semua petugas kesehatan yang berisiko agar mendapatkan imunisasi difteri 3 dosis dengan interval 0, 1, 6 bulan atau melengkapi imunisasi difteri yang pernah didapat.

9.    Memberikan imunisasi booster difteri usia dewasa setiap 10 tahun sekali.

10.  Tatalaksana dilakukan pada kasus, kontak dan karier:

a.   Tatalaksana kasus klinis yaitu yang ditemukan adanya infeksi saluran pernafasan dan pseudomembran. Kasus diisolasi, diambil sampel kultur swab hidung dan tenggorok dengan menggunakan media amis transport, pemberian antibiotik dan pemberian Anti Difteri Serum (ADS) tanpa menunggu hasil laboratorium. Pemberian ADS disesuaikan dengan rekomendasi WHO. Tatalaksana selanjutnya harus disertai dengan pengamatan adanya komplikasi jangka pendek dan jangka panjang. Pengambilan sampel pada kasus hari pertama dan kedua, selanjutnya pada hari ketujuh.

b.   Tatalaksana kontak, dilakukan pengambilan sampel swab hidung dan tenggorok, pemberian antibiotik profilaksis sesuai dosis selama 7-10 hari. Jika hasil laboratorium kontak penderita positif (karier) maka di lanjutkan pemberian antibiotik selama 7-10 hari lagi sampai hasil laboratoriumnya negatif.

c.   Melakukan pemantauan minum obat kontak dan karier agar obat di minum sesuai aturan.

11.  Membentuk jejaring laboratorium difteri yang mampu melakukan pemeriksaan toksigenik (untuk konfirmasi) bakteri, secara bertahap. Dapat mempertimbangkan BBLK surabaya, Litbangkes sebagai rujukan nasional dan mengembangkan ke BBTKL Jakarta, Jogjakarta dan Banjar baru

12.  Standar pemeriksaan laboratorium adalah kultur untuk semua KLB (kasus dan kontak) dan pemeriksaan elek test untuk kasus indeks.


Sumber:

Prof.Dr.dr. Ismoedijanto,Sp.A (K)

HIMBAUAN TENTANG PENYAKIT DIFTERI

Sehubungan dengan peningkatan kasus difteri di beberapa wilayah Indonesia, maka Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengingatkan bahwa:
  • Penyakit difteri sangat menular dan dapat menyebabkan kematian. Penyakit difteri dapat dicegah dengan melakukan imunisasi sesuai jadwal yang direkomendasikan oleh Kementerian Kesehatan atau Ikatan Dokter Anak Indonesia.
  • Imunisasi adalah perlindungan terbaik terhadap kemungkinan tertular penyakit difteri, dan dapat diperoleh dengan mudah di berbagai fasilitas kesehatan pemerintah maupun swasta.
  • Lengkapi imunisasi DPT/DT/Td anak anda sesuai jadwal imunisasi anak Kementerian Kesehatan atau Ikatan Dokter Anak Indonesia. Imunisasi difteri lengkap adalah sebagai berikut:
    • Usia kurang dari 1 tahun harus mendapatkan 3 kali imunisasi difteri (DPT).
    • Anak usia 1 sampai 5 tahun harus mendapatkan imunisasi ulangan sebanyak 2 kali.
    • Anak usia sekolah harus mendapatkan imunisasi difteri melalui program Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS) siswa sekolah dasar (SD) kelas 1, kelas 2, dan kelas 3 atau kelas 5.
    • Setelah itu, imunisasi ulangan dilakukan setiap 10 tahun, termasuk orang dewasa. Apabila status imunisasi belum lengkap, segera lakukan imunisasi di fasilitas kesehatan terdekat.


  • Kenali gejala awal difteri. Gejala awal difteri bisa tidak spesifik, seperti:
    • Demam tidak tinggi
    • Nafsu makan menurun
    • Lesu
    • Nyeri menelan dan nyeri tenggorok
    • Sekret hidung kuning kehijauan dan bisa disertai darah



Namun memiliki tanda khas berupa selaput putih keabu-abuan di tenggorok atau hidung, yang dilanjutkan dengan pembengkakan leher atau disebut sebagai bull neck.
  • Segera ke fasilitas kesehatan terdekat apabila anak anda mengeluh nyeri tenggorokan disertai suara berbunyi seperti mengorok (stridor) atau pembesaran kelenjar getah bening leher, khususnya anak berumur < 15 tahun.
  • Anak harus segera dirawat di rumah sakit apabila dicurigai menderita difteri agar segera mendapat pengobatan dan pemeriksaan laboratorium untuk memastikan apakah anak benar menderita difteri.
  • Apabila anak anda didiagnosis difteri, akan diberikan tatalaksana yang sesuai termasuk perawatan isolasi
  • Untuk memutuskan rantai penularan, seluruh anggota keluarga serumah harus segera diperiksa oleh dokter dan petugas dari Dinas Kesehatan, serta mendapat obat yang harus dihabiskan untuk mencegah penyakit, apakah mereka juga menderita atau karier (pembawa kuman) difteri dan mendapat pengobatan.
  • Anggota keluarga yang tidak menderita difteri, segera dilakukan imunisasi DPT/DT/Td sesuai usia.
  • Laksanakan semua petunjuk dari Dokter dan Petugas Kesehatan setempat
  • Setelah imunisasi DPT, kadang-kadang timbul demam, bengkak dan nyeri ditempat suntikan DPT, yang merupakan reaksi normal dan akan hilang dalam 1-2 hari. Bila anak mengalami demam atau bengkak di tempat suntikan, boleh minum obat penurun panas parasetamol sehari 4 x sesuai umur, sering minum jus buah atau susu, serta pakailah baju tipis atau segera berobat ke petugas kesehatan terdekat.
  • Anak dengan batuk pilek ringan dan tidak demam tetap bisa mendapatkan imunisasi DPT/DT/Td sesuai usia. Jika imunisasi tertunda atau belum lengkap, segera lengkapi di fasilitas kesehatan terdekat

Sumber:
IDAI
Ikatan Dokter Anak Indonesia

PERBEDAAN PENYAKIT CAMPAK DAN RUBELLA

Campak dan Rubella adalah penyakit yang disebabkan oleh virus, sangat menular dan menyerang saluran pernapasan seseorang. Virus ini seringkali menyerang anak-anak (0-15 th). Jumlah kasus pada dewasa cenderung kecil. Anak atau orang dewasa yang tidak pernah diimunisasi Campak atau belum pernah sakit campak/rubella memiliki risiko tinggi untuk tertular (baca :penyakit campak dan rubella). Nah apa sih perbedaan campak dengan rubella. Simak keterangan berikut ini :


CAMPAK
  • Penyakit infeksi virus akut yang sangat menular yang ditandai dengan 3 stadium yaitu : stadium inkubasi, prodormal, dan erupsi
  • Disebabkan oleh virus Myxovirus Viridae Measles
  • Penularan melalui percikan ludah dan melalui jalan napas
  • Komplikasi berat : radang paru, radang otak, diare, radang telinga, dehidrasi, kematian
  • Gejala-gejala penyakit campak : 
    1. Demam (Panas Tinggi)
    2. Bercak kemerahan (Rash)
    3. Batuk pilek
    4. Konjungtivitis (mata kemerahan)
    5. Selanjutnya timbul ruam pada muka dan leher, kemudian menyebar ke tubuh dan tangan serta kaki

RUBELLA
  • Penyakit Rubella atau Campak Jerman adalah penyakit yang disebabkan oleh Virus Rubella yang sangat menular (Very High Infectious).
  • Relatif berupa penyakit ringan pada anak
  • Rubella ketika menyerang anak sering hanya menimbulkan gejala demam ringan atau bahkan tanpa gejala sehingga sering tidak terlaporkan.
  • Penyakit ini sangat mirip dengan Campak yang juga ditularkan melalui saluran napas saat batuk atau bersin (droplet).
  • Infeksi Rubella pada wanita hamil terutama pada kehamilan trimester pertama dapat mengakibatkan :
      1. Aborsi Spontan, atau
      2. Berbagai kelainan kongenital   :
        • Retardasi Mental
        • Kelainan jantunng
        • Tuli dan/atau
        • Gangguan penglihatan seperti katarak congenital


BAHAYA CAMPAK
  • Sakit berat à Komplikasi berat à Bahkan Kematian
  • Tidak mau makan minum à Gizi Buruk
  • Diare Berat
  • Infeksi Paru (Pneumonia) à Kematian
  • Memperberat penyakit TB paru
  • Radang otak
  • Dapat menimbulkan wabah/KLB


BAHAYA RUBELLA
  • Rubella adalah penyakit akut dan ringan yang sering menginfeksi anak dan dewasa muda yang rentan.
  • Tetapi yang menjadi perhatian dalam kesehatan masyarakat adalah efek pada janin (teratogenik) apabila rubella ini menyerang wanita hamil pada trimester pertama.
  • Infeksi rubella selama awal kehamilan dapat menyebabkan keguguran, kematian janin, atau sindrom rubella kongenital (Congenital Rubella Syndrome/CRS) pada bayi yang dilahirkan.
  •  CRS umumnya bermanifestasi sebagai penyakit jantung bawaan, katarak mata, bintik-bintik kemerahan (Purpura), Microchephaly (Kepala kecil) dan tuli. baca bahaya congenital rubella syndrome/CRS

SERBA SERBI KANKER SERVIKS (LEHER RAHIM)

Kanker leher rahim adalah tumbuhnya sel abnormal atau ganas pada leher rahim (serviks). Disebabkan oleh infeksi Virus HPV (Human Papiloma Virus). Terjadi pada perempuan yang telah melakukan hubungan seksual.

Gejala Kanker Leher Rahim yaitu :

  1. Mentruasi tidak normal
  2. Pendarahan tidak pada masa menstruasi/haid
  3. Pendarahan pada masa menopouse
  4. Keputihan atau keluar cairan encer putih kekuningan terkadang bercampur darah seperti nanah
  5. Perdarahan pasca hubungan seksual
Sumber : kankerservik.com

Faktor Risiko Terjadinya Kanker Leher Rahim
  1. Melakukan hubungan seksual di usia dini < 20 th
  2. Berganti-ganti pasangan seks
  3. Melakukan hubungan seks dengan pria yang sering berganti-ganti pasangan
  4. Merokok atau terpapar asap rokok (perokok pasif)
  5. Perilaku seks tidak sehat


Pemeriksaan apa yang dapat dilakukan untuk dapat mencegah kanker leher rahim ?
  1. Pemeriksaan IVA minimal sekali dalam 5 tahun
  2. Pemeriksaan PAP Smear tiap tahun
  3. Pemeriksaan HPV
IVA (Inpeksi Visual Asam Asetat) adalah Pemeriksaan leher rahim secara visual menggunakan asam cuka, yaitu melihat leher rahim dengan mata telanjang untuk mendeteksi abnormalitas setelah di oles asam cuka.

Sumber : kankerleherrahim.com

Apa itu Krioterapi ?
Krioterapi adalah pengobatan lesi prakanker (IVA +) dengan cara membekukan untuk menghancurkan sel yang abnormal. Sangat mudah dan cepat serta dapat dilakukan di Puskesmas.

Test IVA dapat dilakukan pada tempat-tempat sebagai berikut :
  1. Bidan Desa
  2. Puskesmas Pembantu
  3. Puskesmas
  4. Rumah Sakit
  5. Rumah Bersalin



Sumber Referensi :

Direktorat Pengendalian Penyakit Tidak Menular
Kementerian Kesehatan RI 2015


Mengenal Vaksin MR (Measles Rubella)

Tahun 2011, World Health Organization (WHO) merekomendasikan seluruh negara yang belum memasukkan vaksin rubella untuk memasukkan vaksin rubella dalam program imunisasi rutin.

Komite Penasehat Ahli Imunisasi nasional (ITAGI) juga mengeluarkan rekomendasi mengenai introduksi vaksin rubella, diharapka pemerintah mengintegrasikan vaksin Measles Rubella ke dalam program imunisasi nasional untuk menurunkan angka kejadian penyakit rubella dan Sindroma Rubella Kongenital (CRS), baca Bahaya Congenital Rubella Syndrome (CRS)


Vaksin rubella tersedia dalam bentuk monovalen maupun dikombinasi dengan virus lain misalnya dengan campak (Measles Rubella/MR) atau dengan Campak dan Parotis (Measles Mumps Rubella / MMR). Semua vaksin rubella dapat menimbulkan serokonversi sebesar 95% atau lebih setelah pemberian satu dosis vaksin dan efikasi vaksin diperkirakan sekitar 90-100%.

Sumber: Dinkes Kab Blitar

Vaksin rubella adalah vaksin hidup yang dilemahkan (live attenuated), berupa serbuk kering dengan pelarut. Kemasan vaksin yaitu untuk 10 dosis per vial.

Vaksin MR diberikan secara sub kutan dengan dosis 0,5 ml. Vaksin hanya boleh dilarutkan dengan pelarut yang disediakan dari produsen yang sama. Vaksin yang telah dilarutkan harus segera digunakan paling lambat sampai 6 jam setelah dilarutkan.

Kontra indikasi pemberian vaksin MR yaitu pada ndividu yang sedang dalam terapi kortikosteroid, immunosupresan dan radioterapi; wanita hamil; leukemia, anemia berat dan kelainan darah lainnya; kelainan fungsi ginjal berat; gagal jantung; setelah pemberian gamma globulin atau tranfusi darah; riwayat alergi terhadap komponen vaksin (neomicyn).

Pemberian imunisasi MR sebaiknya ditunda apabila anak dalam keadaan sakit seperti demam, batuk, pilek, dan diare.

Sumber: Dinkes Prov Jatim

Pastikan vaksin MR yang digunakan kondisinya baik. Pada tutup vial vaksin terdapat indikator paparan suhu panas berupa Vaccine Vial Monitor (VVM). Vaksin yang boleh digunakan hanyalah vaksin dengan kondisi VVM A atau B. Seetelah vaksin dioplos dengan pelarut pastikan suhunya tetap terjaga 2-8'C dan hanya dapat digunakan dalam batas waktu 6 (enam) jam setelah dioplos.


Sumber Referensi:
Paket Advokasi Imunisasi Massal
CAMPAK-RUBELLA
Agustus-September 2017
Kementerian Kesehatan RI


SAMBUTAN BUPATI BLITAR DALAM ACARA PENCANANGAN KAMPANYE DAN INTRODUKSI IMUNISASI MEASLES RUBELLA (MR) DI KABUPATEN BLITAR

Assalamu’alaikum Wr Wb

Salam sejahtera untuk kita semua

Yth. Sdr. Forpimda beserta ibu
Yang saya hormati :
·     Sdr. Ketua Komisi IV DPRD Kab Blitar beserta anggota,
·     Sdr. Sekretaris Daerah Kab.Blitar,
·     Sdr. Kepala  OPD  se-Kab. Blitar,
·     Sdri. Ketua TP PKK Kabupaten Blitar
·     Sdri. Ketua Dharma Wanita Persatuan Kabupaten Blitar
·     Sdri. Ketua Muslimat Cab Kab Blitar
·     Sdri. Ketua Fatayat Cab Kab Blitar
·     Sdri. Ketua Aisyiyah Cab Kab Blitar
·     Sdr. Camat Udanawu & Seluruh Camat beserta Ketua TP PKK Kecamatan se Kabupaten  Blitar.
·     Sdr.   Kepala    Puskesmas beserta Pemegang Program Imunisasi se Kabupaten Blitar.
·     Sdr. Kepala Desa beserta Ketua TP PKK Desa se Kecamatan Udanawu,
·     Para Dokter Spesialis Anak yang tergabung dalam Pokja Kampanye MR
·     Para Tokoh Masyarakat Se Kecamatan Udanawu,
·     Undangan, dan seluruh  hadirin yang berbahagia.


Mengawali sambutan ini, marilah kita semua menghaturkan puji dan syukur kehadirat Allah SWT, yang telah memberikan limpahan rahmat karunia, hidayah dan inayah-Nya, kepada kita semua, sehingga hari ini kita dapat saling bertemu dalam keadaan sehat wal-afiat, guna mengahadiri dan mengikuti acara “Pencanangan Kampanye Dan Introduksi Imunisasi Measles-Rubella (MR)”.

Sholawat dan Salam semoga tetap tercurahkan kepada junjungan kita  Nabi Besar Muhammad SAW yang selalu kita nantikan Syafaatnya mulai detik ini hingga di Yaumil Akhir nanti.  



Bapak/ibu undangan yang saya hormati.

·   Indonesia telah berkomitmen untuk mencapai eliminasi penyakit campak dan pengendalian penyakit rubella/kecacatan yang disebabkan oleh infeksi rubella saat kehamilan (Congenital Rubella Syndrome) pada tahun 2020.

·    Salah satu upaya yang perlu dilakukan untuk mempercepat pencapaian tujuan tersebut adalah dengan melaksanakan kampanye (imunisasi massal) dan introduksi imunisasi Campak/Measles dan Rubella (MR).

·   Imunisasi massal MR ini bertujuan untuk memutus transmisi penularan virus campak dan rubella yang ada di masyarakat.

·   Dalam rangka menyukseskan imunisasi massal dan introduksi imunisasi MR 2017, Saya mengajak Dinas / Lembaga terkait, beserta perangkat kerjanya, Organisasi Masyarakat Sipil, dan lembaga-Lembaga Swadaya Masyarakat untuk berpartisipasi dan berkontribusi dalam imunisasi massal MR.



Hadirin yang saya hormati,
·    Sasaran pelaksanaan kegiatan imunisasi massal MR adalah seluruh anak usia 9 bulan sampai dengan 15 tahun yang berjumlah sekitar 67 juta (Seluruh Jawa). Sedangkan di Kab Blitar sasaran imunisasi MR berjumlah kurang lebih 260.000 anak.

·                 Untuk Tahap I
Imunisasi massal MR 2017 dilaksanakan di 6 provinsi di seluruh Pulau Jawa yang dilaksanakan pada bulan Agustus dan September 2017.

Untuk Tahap II
            Imunisasi Massal  MR dilaksanakan di seluruh Propinsi diluar Pulau             Jawa yang                        dilaksanakan  pada bulan Agustus dan September 2018

·  Di Kabupaten Blitar, Imunisasi MR pada bulan Agustus 2017 akan dilaksanakan di Posyandu posyandu, polindes, ponkesdes, puskesmas pembantu, puskesmas, dan pos imunisasi lainnya dengan sasaran bayi usia 9 bulan sampai dengan anak usia 6 Tahun.

·    Selanjutnya pada bulan September 2017 Imunisasi MR akan dilakukan diseluruh sekolah yang terdiri dari sekolah SD/MI/Sederajat, SDLB dan SMP/MTS/sederajat dan SMPLB.

·    Imunisasi MR ini diberikan tanpa mempertimbangkan status imunisasi sebelumnya. Imunisasi MR ini bersifat wajib dan tidak memerlukan ijin tertulis/ individual informed consent.



Hadirin undangan yang berbahagia

·   Imunisasi MR ini tidak akan bisa berjalan dengan baik apabila tidak didukung oleh seluruh Lintas Sektor

·  Saya mengharapkan Sdr Kepala Dinas Pendidikan dan Sdr.Kepala Kantor Kemenag agar terus mendukung demi suksesnya program Imunisasi MR ini. Terimakasih atas dukungannya dalam menyediakan dan memvalidasi data-data sasaran utama imunisasi massal, membantu membuat surat edaran dan sosialisasi agar imunisasi massal ini sukses dilaksanakan dan menjangkau sasaran secara optimal (minimal 95%).

·   Peran Tim Penggerak PKK di tiap tingkatan, tokoh masyarakat  alim ulama serta para pengasuh Pondok Pesantren  sangat diharapkan dalam penyuluhan dan penggerakan sasaran agar masyarakat luas dapat menerima informasi terkait tentang tujuan, waktu, jadwal, dan dapat menggerakkan kelompok sasaran imunisasi massal ini agar datang sesuai waktu pelayanan.

·   Saya juga mengharapkan Organisasi Profesi (IDAI, IDI, IBI, PPNI, PERSI, dll) agar mendukung kegiatan imunisasi massal dan introduksi imunisasi MR ini dengan membuat surat edaran ke masing-masing anggotanya untuk mendukung pelaksanaan imunisasi massal dan introduksi MR ini dan bekerjasama dengan Dinas Kesehatan.

·    Seluruh organisasi kemasyarakatan dan keagamaan diminta untuk mengajak para orang tua dan wali agar membawa anak-anak mereka ke tempat-tempat pelayanan imunisasi massal MR sesuai dengan jadwal yang telah ditetapkan.



Hadirin undangan yang saya hormati,

·   Guna  membangun kepekaan dan kesadaran masyarakat tentang pelaksanaan imunisasi massal MR ini, kami mengajak partisipasi media massa (cetak dan elektronik (radio, TV) untuk menerbitkan berbagai berita , wawancara, dialog, pesan layanan masyarakat, pengumuman publik, dan diskusi terkait dengan imunisasi MR ini

·   Saya menghimbau berbagai organisasi profesi terkait, pihak swasta, lembaga pendidikan, organisasi keagamaan, untuk terlibat aktif membantu menyukseskan pelaksanaan imunisasi massal ini.
·   
     Saya mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk terlibat dalam kegiatan ini dengan membawa anak-anak usia 9 bulan sampai dengan usia kurang dari 15 tahun untuk datang ke sekolah-sekolah, Puskesmas, Posyandu, Polindes, dan berbagai fasilitas kesehatan untuk mendapatkan imunisasi MR sesuai waktu yang telah ditentukan.



Hadirin undangan yang saya hormati,
·   Lebih dari 150 Negara telah melaksanakan imunisasi MR sejak tahun 1970. Kita akan mengikuti negara-negara ini dalam memperkenalkan imunisasi MR melalui imunisasi massal

·   Dan selanjutnya imunisasi MR ini akan menjadi bagian dari imunisasi rutin (bagi anak berusia 9 bulan, 18 bulan dan murid kelas 1 SD) mulai bulan oktober tahun 2017 di Pulau Jawa.

     Demikianlah sambutan dari saya semoga Kampanye MR di Kabupaten Blitar dapat berjalan dengan lancar dan sukses.

    Seluruh sasaran (anak usia 9 bl s.d 15 tahun) di Kabupaten Blitar tidak ada yang terlewat untuk imunisasi.




Mari bersama kita sukseskan Kampanye dan Introduksi MR 2017 !!!!

Untuk Kabupaten Blitar yang lebih sehat.

Terimakasih.

Wassalamualaikum Wr Wb

“KITA KOMPAK....BISA!!!!”

Blitar, 27 Juli 2017
BUPATI BLITAR



Drs. H. Rijanto, MM